Setelah makan siang dengan beberapa kolega di sekitaran kampus, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1.45 WIB yang berarti hanya sekitar 15 menit lagi sebelum speech dari Jonas dimulai. Acara ini diadakan di laboratorium Jaringan Komputer Teknik Elektro Unsyiah. Penulis mendapatkan Informasi ini dari salah seorang staf di Program Studi Teknik Elektro yang kebetulan bertemu pagi ini (Jumat, 2 Desember 2011) dan dikuatkan lagi oleh Bapak Dr. Taufik F. Abidin yang sempat mengingatkan kembali tentang acara ini ba’da Shalat Jumat.
Setelah menunggu di Lab. Jaringan Komputer sekitar lebih dari 30 menit sampai dengan kira-kira pukul 2.23 WIB akhirnya Debian Developer ini tiba juga di Program Studi Teknik Elektro (PSTE). Pembicaraan pun dimulai dengan memperkenalkan diri bahwa dia memiliki zero-knowledge of programming. Hal ini seharusnya menjadi dorongan buat semua mahasiswa PSTE bahwa untuk melakukan sesuatu, yang dibutuhkan adalah niat yang kuat bukan skill semata, di mana kemampuan ini nantinya dapat diperoleh on the fly.
Berbeda dengan beberapa linuxer Indonesia yang penulis kenal, mereka umumnya selalu mengatakan bahwa Bill Gates dan produknya adalah masalah dan lebih parah lagi mungkin mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas. Tapi Jonas mengatakan “Bill Gates and Windows are not evils”. Kalimat tersebut bahkan diulang sampai 2 kali. Ini menunjukkan bahwa Jonas juga menghormati Bill Gates. Cerita lainnya yang patut dicatat pada saat perkenalan adalah perbedaan antara hacker dan cracker. Di mana sekarang istilah hacker lebih sering dikaitkan dengan pelaku kriminal. Masih menurut jonas, tindakan pencurian atau perusakan data dalam dunia maya yang dia sebut sebagai Digital Burglar lebih pantas disebut cracker.
Pada awalnya Jonas sedikit menyinggung tentang Ubuntu. Menurut pandangan Jonas bahwa Ubuntu adalah subset dari debian yang lebih user friendly. Ada satu kata yang menarik dalam kalimat Jonas di atas yaitu subset yang berarti himpunan bagian. Ternyata pelajaran atau kuliah di bidang Komputer kita tidak akan pernah lepas dari sepupu dekatnya yaitu matematika. Mudah-mudahan semua mahasiswa PSTE masih ingat bahwa rumus untuk menghitung jumlah himpunan bagian adalah 2n di mana himpunan kosong dan dirinya sendiri juga merupakan bagian dari himpunan bagian tersebut.
Kemudian Jonas mencoba mengenalkan Debian di kalangan mahasiswa PSTE. Umur Debian yang sudah mencapai 17 tahun merupakan sweet seventeen bagi remaja namun untuk sebuah sistem operasi keroyokan seperti Linux dapat diartikan sebagai sebuah sistem operasi yang sudah sangat mapan dan selama 17 tahun selalu mendapat dukungan dari berbagai developer di seluruh dunia. Debian versi stabil akan di-release setiap 3 tahun yang sangat berbeda dengan Ubuntu yang me-publish versi stabilnya setiap 6 bulan. Dapat kita bayangkan bahwa ujian apa saja yang sudah dilewati sebuah sistem operasi Debian selama 3 tahun untuk dapat di-release sebagai stable version. Dan tentu saja kita sudah bisa menebak se-stabil apa Debian ini setelah menempuh penggodokan selama 3 tahun. Namun, debian juga memiliki versi testing yang diupdate setiap 10 hari atau yang lebih cepat lagi setiap 6 jam yaitu versi unstable.
Jonas melanjutkan bahwa user friendly berarti menghilangkan pilihan yang bisa kita lakukan. Ubuntu misalnya, kita ketika melakukan instalasi tidak diberi pilihan dalam menentukan desktop manager yang ingin kita gunakan. Dia melanjutkan bahwa user friendly hanya nyaman digunakan bagi para pemula atau lebih dikenal dengan istilah newbie. Sebagai contohnya kita lihat Word Processor, ketika pertama kali kita gunakan kita akan sering berinteraksi dengan mouse dan tombol-tombol yang user friendly. Tapi semakin hari kita semakin cepat dalam mengetik, dan merasakan bahwa penggunaan mouse akan sedikit mengganggu kecepatan dalam mengetik, sehingga kita lebih senang menggunakan shortcut ketika kita sudah tidak berada dalam tingkatan newbie.
Di bagian akhir dari perkenalan Debian oleh Jonas. Dia ‘memaksa’ semua orang di Aceh umumnya dan mahasiswa PSTE khususnya yang merupakan ahli-ahli dalam bahasa Aceh untuk mulai melakukan modifikasi terhadap sistem Debian yang berjalan dengan perintah dalam Aceh sebagai pilihan default dan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagai pilihan kedua dan ketiga. Karena menurut Jonas jika bahasa inggris bukan bahasa ibu kita maka kita akan memperlambat kemajuan yang akan kita dapatkan jika dibandingkan dengan belajar menggunakan bahasa ibu kita. Dari satu sisi tentu saja ini benar, jika yang menjadi tolak ukur keberhasilan adalah kemampuan dari segi komputer. Namun yang juga perlu diperhatikan bahwa untuk komunikasi international kita juga perlu menguasai bahasa Inggris. Karena sehebat dan sepintar apapun kita, jika kita tidak bisa menjelaskan ide kita pada dunia international maka tidak ada orang yang mengakui kemampuan kita. Sehingga dapat penulis simpulkan, untuk mahasiswa PSTE mungkin dapat membangun Debian dengan instruksi dalam bahasa Aceh tapi jangan pula meninggalkan pelajaran bahasa Inggris.
Namun ada satu hal yang menjadi catatan penulis dalam diskusi dan perkuliahan yang diberikan oleh Jonas. Bahwa jika mau merasakan Linux yang sesungguhnya gunakanlah Debian karena begitu banyak pilihan yang bisa kita gunakan. Jonas bahkan mendorong siapa saja untuk terlibat dalam Debian project termasuk penterjemahan dokumentasi. Ini berkaitan dengan pesan Jonas bahwa jika kita sudah mampu menguasai sesuatu jangan meninggalkan komunitas kita. Dukung komunitas kita dengan menciptakan/membuat dokumentasi dalam bahasa kita sendiri sehingga lebih banyak dari komunitas kita yang bisa belajar walaupun tidak menguasai bahasa Inggris.